China Berencana Larang Daur Ulang Kapal di Wilayahnya

China Berencana Larang Daur Ulang Kapal di Wilayahnya

China berencana untuk menghentikan mengizinkan daur ulang kapal internasional di daerahnya pada awal 2019.

Keputusan itu diambil dari upaya China untuk menindak pencemar dan industri penghasil sampah di negara itu, yang telah melihat beberapa meter menolak lisensi daur ulang kapal mereka.

Kapal berbendera China akan diizinkan untuk terus dibongkar di daerah China, namun, Pemerintah China tidak akan lagi memberikan subsidi untuk cabang, seperti yang diputuskan tahun lalu. Karena adanya perubahan kebijakan, pemilik lokal cenderung mencari tempat lain untuk pensiun kapal mereka, termasuk India.

“Dalam pandangan ini, pemilik harus menyerah pada fakta bahwa, dengan pengecualian Turki, Konvensi HK menyetujui daur ulang pekarangan di Alang harus diambil lebih serius mengikuti perbaikan luar biasa yang telah dilakukan di pekarangan ini selama banyak tahun dan fakta bahwa pekarangan ini sekarang hanya dapat menawarkan pemilik satu-satunya alternatif pada saat ini untuk daur ulang hijau, ”kata Clarksons Platou Shipbroking.

Dua tahun lalu, pemimpin industri Maersk berkomitmen untuk berinvestasi di Alang yard dan meningkatkan standar operasional mereka untuk mematuhi persyaratan perusahaan.

Chief Executive Officer AP Møller – Mærsk A / S, Søren Skou, mengatakan baru-baru ini bahwa beberapa meter di Alang, India, berkinerja pada tingkat yang sama atau lebih baik dari pekarangan di China dan Turki, “yang dulunya merupakan satu-satunya opsi untuk ekonomi daur ulang kapal yang layak dan bertanggung jawab. “

Menjelaskan pendekatannya, Maersk mengatakan bahwa perusahaan membantu pekarangan untuk meningkatkan praktik mereka sementara secara kontrak membutuhkan penerapan penuh dari standarnya yang dikendalikan oleh pengawasan di tempat selama proses serta audit kuartalan oleh pihak ketiga.

Meskipun situasinya jauh dari sempurna, terutama ketika datang ke bahaya kesehatan di galangan kapal di Alang, Maersk percaya bahwa membantu pekarangan untuk meningkatkan standar mereka adalah kesempatan untuk mengubah industri menjadi lebih baik.

Namun, untuk kemajuan yang lebih berkelanjutan, dibuat lebih banyak pemilik kapal yang perlu terlibat.

Kapal rusak di jual ke Asia Selatan

Dari total 206 kapal, yang rusak pada kuartal pertama 2018, 152 kapal dijual ke pantai Asia Selatan karena melanggar, menurut LSM Shipbreaking Platform.

Meskipun ada peningkatan yang cukup besar yang dilakukan oleh beberapa kapal, sebagian besar pekarangan di Asia selatan terkenal karena praktik lingkungan dan kesehatan serta keselamatan mereka yang buruk.

Sangat umum bagi pekerja untuk menderita luka serius atau bahkan terbunuh karena paparan berbagai jenis risiko mulai dari benda jatuh ke keracunan.

Sejauh tahun ini, 10 pekerja telah kehilangan nyawa dan 2 pekerja telah terluka parah ketika melanggar kapal di Chittagong, Bangladesh. Dua pekerja lainnya dilaporkan tewas setelah kecelakaan di sebuah pangkalan kapal di Alang, India, data dari LSM Shipbreaking Platform menunjukkan.

Polisi Peariran Indonesia Tangkap Ever Judger

Polisi Peariran Indonesia Tangkap Ever Judger

Pemburu kapal berbendera Panama MV Ever Judger telah ditangkap oleh polisi Kalimantan Timur sehubungan dengan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap tumpahan minyak besar-besaran dan kebakaran terkait yang merenggut nyawa lima orang pada 31 Maret.

“Kami memutuskan untuk merebut kapal itu untuk penyelidikan menyeluruh atas tumpahan minyak yang membahayakan Teluk Balikpapan selama 21 hari,” kata Kepala Investigasi Polisi Kalimantan Timur Yustan Alpiani seperti dikutip oleh Indonesian Bernar News.

Kapten kapal dan 20 awaknya telah dilarang meninggalkan Indonesia sampai penyelidikan selesai, kata Jakarta Post.

Sebagaimana diinformasikan, kapal itu diikat ke dermaga di perairan Pelabuhan Semayang.

Jangkar 82.000 dwt bulk carrier telah diidentifikasi sebagai kemungkinan penyebab pecahnya pipa bawah laut milik kilang lokal milik Pertamina, kantor hidrografi Angkatan Laut Indonesia ditemukan, yang mengakibatkan pelepasan sejumlah besar minyak mentah menyebar di 26 kilometer. Menurut laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, insiden tersebut mempengaruhi sekitar 34 hektar ekosistem Mangrove dan menyebabkan masalah kesehatan bagi masyarakat di daerah tersebut.

Ever Judger adalah satu-satunya kapal di perairan Teluk Balikpapan, menurut data AIS kapal, pada saat kejadian. Jangkar kapal diyakini telah menyeret pipa sekitar 300 meter dari posisinya semula. Berdasarkan bukti yang ditemukan sejauh ini, jangkar telah merusak pipa dan rekonstruksi forensik dari peristiwa-peristiwa itu belum selesai berdasarkan sisa-sisa pipa yang ditemukan untuk menyimpulkan kasus tersebut.

Kerjasama untuk penanggulangan tumpahan minyak

Pertamina sejak itu telah bekerja sama dengan pihak berwenang setempat untuk mengatasi tumpahan minyak. Perusahaan itu dikatakan menunggu hasil penyelidikan dan kemungkinan akan mempertimbangkan tindakan hukum terhadap pelakunya setelah secara resmi ditentukan.

Namun demikian, organisasi-organisasi lokal telah mengkritik pemerintah Indonesia karena kegagalan mereka untuk membangun sistem peringatan dini kepada kapal-kapal asing untuk menghindari kejadian semacam itu, mendesak keamanan di sekitar jaringan pipa tersebut ditingkatkan.

Yang Ming Mendapat Profit Besar Tahun Ini

Yang Ming Mendapat Profit Besar Tahun Ini

Perusahaan pelayaran berbasis di Taiwan Yang Ming berhasil menutup kuartal ketiga tahun ini dengan keuntungan TWD 1,26 miliar (42 juta USD), dibandingkan dengan kerugian yang tercatat pada periode yang sama tahun 2016.

Seperti yang dijelaskan, status keuangan Yang Ming yang membaik dapat dikaitkan dengan “kombinasi tindakan strategis dan inisiatif yang dirancang untuk mengendalikan biaya operasional dan upaya bersama anggota timnya di seluruh dunia”.

Ditambah dengan dukungan dari pemegang saham utama perusahaan, Yang Ming telah membalikkan kerugian kuartal sebelumnya. Untuk mengingatkan, perusahaan membukukan rugi bersih TWD 901 juta dan TWD 445 juta pada kuartal I dan II 2017.

Pendapatan konsolidasi Q3 Yang Ming adalah TWD 35,78 miliar, melonjak 23,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu ketika perusahaan tersebut melaporkan pendapatan TWD 28,99 miliar.

Volume pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 1,24 juta TEUs, sebuah lonjakan 11,1% dari tahun ke tahun.

Selain itu, laba bersih per saham TWD 0.7 dan laba bersih bersih tahun ini adalah TWD 0,5 miliar. Rugi akumulasi perusahaan setelah pajak untuk periode yang sama adalah TWD 82 juta, penurunan 99% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Karena kesehatan keuangan Yang Ming terus pulih, perusahaan mengatakan bahwa pihaknya mencari peluang untuk memperluas operasi dan memperbaiki jaringan layanannya.

Di Asia Tenggara, Yang Ming bermaksud untuk bergabung dengan Taiwan International Port Corporation untuk bersama-sama berinvestasi di Indonesia dalam upaya meningkatkan infrastruktur pengiriman dan logistik. Selain itu, Yang Ming akan mendirikan Pusat Operasi Regional untuk mengawasi operasi perusahaan di Laut Tengah dan Laut Hitam.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang memiliki banyak daya tarik bagi para pengusaha yang melewati perairan Indonesia. Perairan Indonesia juga merupakan salah satu yang paling luas dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Pelindo Luncurkan E-Port Bersama BNI

Pelindo Luncurkan E-Port Bersama BNI

Bersama BNI, Pelindo III baru-baru ini mengeluarkan layanan yang diberi nama e-Port. Layanan ini merupakan layanan baru demi meningkatkan kualitas dari layanan pelabuhan dan semakin membuat layanan di pelabuhan menjadi lebih modern.

E-Port merupakan kartu yang dapat digunakan sebagai pembayaran di daerah pelabuhan yang berada pada wilayah wewenang dari Pelindo III. Ini sekaligus komitmen dari Pelindo III untuk membuat sistem yang lebih modern hingga diterapkan dalam pelabuhan.

BNI menjadi bank yang digandeng oleh Pelindo III untuk membuat sistem di pelabuhan ini. Bersama BNI, Pelindo III menandatangani nota kesepahaman atau MoU untuk kerja sama ini. Perwakilan Pelindo III dalam hal ini diwakilkan oleh U. Saefudin Noer yang bertindak sebagai Direktur Keuangan Pelindo III  dan dari pihak BNI diwakilkan oleh  Adi Sulistyowati yang merupakan Direktur Hubungan Kelembagaan dan Transaksional Perbankan. Penandatanganan kerjasama kedua belah pihak ini dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Saefudin Noer menerangkan bahwa kerjasama antara kedua pihak ini sebagai bentuk nyata BUMN dalam memberi dukungan dalam menaikkan ekonomi nasional. Penerapan layanan perbankan yang modern sendiri membantu proses bisnis yang ada dalam pelabuhan wilayah Pelindo III.

Adi Sulistyowati menjelaskan tentang fungsi dari e-Port ini. E-Port sendiri adalah uang elektronik yang dapat digunakan dalam wilayah pelabuhan sehingga tidak perlu menggunakan uang cash lagi dalam pelayanan yang ada di pelabuhan sehingga mempercepat bisnis yang ada didalamnya.

BNI memberi nama Tap Cash pada layanan e-Port yang berlaku di pelabuhan Pelindo III ini. Sistem pembayaran yang akan digunakan ini pun dapat terintegrasi sehingga lebih terstruktur dengan baik.

Lebih lanjut Sulistyowati mengatakan dengan adanya e-Port ini, maka hal paling utama dapat dikurangi adalah antrian gerbang masuk. Dengan hanya menggunakan pembayaran melalui kartu, antrian yang terjadi karena pengembalian uang sistem cash dapat dikurangi.

Layanan seperti ini sudah lama diterapkan di jalan toll, sehingga para pengguna cukup menggunakan kartu untuk melakukan pembayaran. Tentu hal ini dapat membuat layanan pembayaran menjadi lebih hemat waktu ketimbang membayar dengan uang cash yang membutuhkan waktu untuk mengembalikan uang kembalian.

Pelindo III Beri Keuntungan 1.7 T ke Negara

Pelindo III Beri Keuntungan 1.7 T ke Negara

Pelindo III selaku Badan Usaha Milik Negara(BUMN) tahun lalu memberikan pendapatan yang sangat besar untuk negara. Totalnya ada sekitar 1.7 Trilliun rupiah uang yang disetor untuk negara dari keuntungan dari berbagai tempat yang berada dibawah naungan Pelindo III ini.

Pendapatan yang dicapai oleh Pelindo III ini pun mengalami kenaikan dari tahun sebelunya. Pada tahun 2015 silam, BUMN ini hanya mampu meraup 1.51 Trilliun rupiah, dan tahun 2016 silam bearti Pelindo III mengalami kenaikan laba sebesar 30 persen. Tentunya persentase ini terbilang cukup tinggi, dan akan menjadi sesuatu yang membanggakan mengingat kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang kurang baik pada beberapa sektor.

Selain mengalami kenaikan laba, Pelindo III juga mengalami kenaikan dari nilai aset secara keseluruhan. Setidaknya tahun 2016 silam, Pelindo III memiliki total nilai aset sebesar 22.18 Trilliun rupiah, dan total ini naik 17 persen jika dibandingkan dengan tahun 2015 silam.

Salah satu faktor keuntungan yang lebih besar didapatkan oleh Pelindo III ini adalah karena pencapaian RKAP(Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) pada tahun 2016 lalu telah melewati target bahkan naik hingga 105 persen. Tentu dengan hal ini, laba yang didapatkan oleh BUMN ini pun melonjak naik dan memberikan sumbangan cukup besar pada penghasilan negara.

Ada pun target ini bisa melebihi RKAP karena kebanyakan perusahaan menggunakan unit GT yang memiliki kapasitas lebih besar dibanding biasanya dan dapat menebus kedalaman kolam yang juga lebih dalam.

Dengan prestasi yang dicapai oleh Pelindo III, lembaga pemeringkat internasional menilai keuangan dari BUMN ini sudah sangat stabil sejak tahun 2016 lalu. Dengan kestabilan keuangan yang didapat oleh Pelindo III ini, memungkinkan untuk membangun infrastruktur lain yang juga dapat terus meingkatkan kinerja yang akan berbanding lurus dengan laba yang akan didapatkan.

TPKS Buka Rute Baru Untuk Perjalanan Domestik

TPKS Buka Rute Baru Untuk Perjalanan Domestik

Terminal Peti Kemas Semarang(TPKS) membuka ruter baru untuk perjalanan domestik. Tujuan yang dibuka adalah dari Semarang ke Banjarmasin dan ini menjadi rute domestik perdana sejak tahun 2001 yang dilakukan oleh TPKS.

TPKS sendiri sebelumnya hanya melayani pelayaran internasional seperti negara-negara Asia, Eropa dan Amerika. Pelayaran yang dilakukan melalui TPKS sendiri pun bukanlah pelayaran langsung ke tujuan, namu melalui persinggahan ke Singapura untuk diberangkatkan ke tujuan utamanya.

Pelayaran rute baru Semarang – Banjarmasin ini ditempuh dalam waktu 20 jam menurut Manajer Operasional TPKS. Dengan adanya rute baru dari TPKS, para eksportir dalam negeri dengan tujuan tersebut yang khususnya berada diwilayah Jawa Tengah dan Jogja tak perlu jauh-jauh mengirim barangnya melalui Tanjung Perak di Surabaya, atau bahkan melalui Tanjung Priuk di Jakarta.

Rencana jangka panjang pun telah disiapkan untuk terus mengembangkan TPKS untuk menjadi salah satu pelabuhan dengan tujuan dan layanan lebih baik lagi. Setidaknya pada tahun 2018 nanti, perluasan terus ingin diberlakukan oleh pihak TPKS demi menambah kapasitas yang ada dalam penampungan kapal.

Dengan terus dikembangkannya TPKS, eksportir dari daerah Jawa Tengah atau Jogja yang selama ini sering menggunakan atau melewati jasa Tanjung Perak tampaknya sudah dapat move ke TPKS yang juga sudah mulai bertahap menyediakan rute-rute domestik lainnya.

Sebelumnya, sekitar 20% eksportir daerah Jawa Tengah mengirimkan barang ekspor melalui Terminal Peti Kemas Surabaya sehingga membuat arus kepadatang disana menjadi lebih dari batas normal. Dengan hadirnya TPKS yang terus mengembangkan diri menjadi salah satu terminal alternatif lainnya, kepadatan ekspor yang terjadi di Surabaya maka dapat dikurangi dan membuat jalur perdagangan dari laut tidak terhambat.

Terminal Petikemas Semarang Belum Dimanfaatkan Maksimal

Terminal Petikemas Semarang Belum Dimanfaatkan Maksimal

Terminal Petikemas Semarang  atau lebih dikenal dengan TPKS masih belum dimanfaatkan dengan maksimal sebagai jalur transportasi ekspor. Padahal sebenarnya TPKS memiliki kapasitas yang cukup tinggi untuk mengirim ekspor.

TPKS sendiri masih belum menjadi pilihan, karena eksportir yang ada masih lebih sering melewati Tanjug Priuk, Jakarta dan Tanjung Perak, Surabaya. Pihak dari TPKS sendiri mengatakan ingin terus meningkatkan dan memaksimalkan potensi yang ada pada TPKS. Dengan memaksimalkan TPKS, maka aktifitas ekspor melalui terminal ini akan dapat membantu dan meringangkan Tanjung Priuk dan Tanjung Perak.

Kapasitas dari TPKS sendiri adalah bongkar muat mencapai 500.000 TEUs per tahunnya. TPKS juga terus melakukan pembukaan rute baru, misalnya rute dari Semarang ke Banjarmasin. Dengan penambahan rute ini, maka transportasi dari kedua wilayah khususnya untuk eksportir menjadi lebih mudah dan banyak pilihan.

Eksportir dari Jawa Tengah dan Jogja sendiri diakui oleh Pelindo III masih lebih senang menggunakan jasa dari Tanjung Priuk atau Tanjung Perak untuk mengekspor barang.  Dengan kondisi tersebut, bagi pengelola TPKS, ini menjadi salah satu tantangan agar dapat menarik peminat eksportir untuk dapat melakukan pengiriman ekspor tidak melalui kedua pelabuhan besar tersebut. TPKS hadir menjadi salah satu alternatif bagi eksportir, khususnya eksportir dari daerah Jawa Tengah dan Jogjak agar dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh TPKS dibanding harus melalui Tanjung Perak dan Tanjung Priuk.

Industri dari pelayaran Indonesia sendiri memang dikenal memiliki potensi yang besar, namun sayang hingga kini belum dapat dimaksimalkan dengan baik. Indonesia sendiri pada beberapa perjalanan untuk pasar Eropa, dan beberapa negara Asia lain harus melalui Singapura.

Organda Anggarkan 290 Milliar Untuk Sambut Teluk Lamong

Organda Anggarkan 290 Milliar Untuk Sambut Teluk Lamong

Pembangunan Teluk Lamong membuat Organda Tanjung Perak melakukan pembelian kendaraan untuk menunjak operasional dari Teluk baru tersebut. Setidaknya Organda telah menganggarkan 290 Milliar rupiah untuk mendatangkan transportasi darat demi menunjang operasional dari Teluk Lamong ini.

Kody Fredy Lamahayu selaku ketua Organda Tanjung Perak mengatakan telah memesan dan hanya menunggu 200 unit kendaraan yang telah dipesan. Semua unit yang dipesan oleh Organda Tanjut Perak tersebut pun diklaim merupakan kendaraan yang telah ramah lingkungan.

Fredy menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai perusahaan terkait demi mendatangkan tranportasi ramah lingkungan. Baik truk maupun kendaraan pengangkut lainnya, semua yang beroperasi di Teluk Lamong nantinya akan memiliki teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Tambahan dari Fredy, dengan mendatangkan dan hanya menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, hal ini pun juga dapat membantu dalam menghemat pengeluaran. Dengan menekan biaya dari segi transportasi darat, tentunya biaya operasional dapat lebih ditekan dan dapat dialihkan untuk keperluan lainnya.

Pelabuhan Teluk Lamong ini sendiri meskipun baru, namun mempunyai daya tampung yang cukup besar. Setidaknya ada 6.5 juta ton curah kering dapat ditampung dan 300 teus petikemas internasional dan 400 teus petikemas dapat ditampung.

Dengan keberadaan Teluk Lamong ini, operasional dalam pengiriman berbagai keperluan menjadi semakin bertambah dan bervariasi. Transportasi laut dalam pengiriman barang keperluan lainnya pun dapat tertampung dengan mudah dan menjadi salah satu alternatif penting.