Jepang Masih Ingin Membangun Pelabuhan Di Indonesia

Jepang Masih Ingin Membangun Pelabuhan Di Indonesia

Pembatalan rencana pekan lalu untuk membangun pelabuhan Cilamaya tidak menghalangi Jepang untuk membangun pelabuhan di Indonesia, Yusron Ihza Mahendra, Duta Besar Indonezia ke Jepang dilaporkan oleh Antara News setempat.

Setelah bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan tim Kaidanren Jepang, Mahendra mengatakan bahwa dirinya yakin Jepang masih dalam permainan, namun kemungkinan besar akan melakukan studi sebelum bergerak maju dengan proyek berikutnya.

Jepang tertarik membangun pelabuhan di Indonesia dan mengubahnya menjadi hub untuk ekspor otomotif.

Pekan lalu, pemerintah Indonesia mencoret proyek pembangunan pelabuhan Cilamaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, karena berencana memindahkan pelabuhan baru ke timur untuk mencari jalur pelayaran yang jelas yang tidak terhalang oleh platform lepas pantai.

Menteri Koordinator Kelautan Indonesia, Indroyono Susilo mengatakan bahwa pemerintah masih mencari lokasi baru ke arah timur dari perairan Cilamaya, yang ditandai dengan sekitar 80 platform lepas pantai.

Indroyono mengatakan bahwa tujuan utamanya sekarang adalah menemukan jalur sepanjang sepuluh kilometer yang menawarkan jalur aman untuk kapal komersial.

Pemerintah berencana melakukan studi kelayakan baru untuk pelabuhan baru yang menurut Indroyono harus beroperasi pada 2020, dan membantu meredakan kemacetan di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Meskipun mengalami pembatalan, pihak Jepang tampaknya bersedia untuk memenuhi beberapa ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam membangun pelabuhan baru yang ingin dibangun oleh Jepang. Ini memang bagi Jepang adalah salah satu langkah yang ingin diambil mengingat pihak Jepang cukup memerlukan akses ke negara-negara lain.

Di pihak lain, Indonesia tengah berbenah dan membuat kebijakan yang membuat untuk pendapatan negara semakin meningkat. Semua ini tidak terlepas dari banyaknya perubahan dan pengoptimalan kemaritiman dari pihak pemerintah Indonesia untuk mengoptimakan layanan kemaritiman.

Terminal Pelabuhan Baru Di Jakarta Mulai Beroperasi

Terminal Pelabuhan Baru Di Jakarta Mulai Beroperasi

Sebuah terminal kontainer baru yang dibangun oleh Nippon Yusen Kabushiki Kaisha (NYK Line), PT. Pelabuhan Indonesia II (IPC), Mitsui dan PSA International (PSA) telah memulai operasi komersial di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Indonesia.

Terminal baru ini akan dioperasikan oleh perusahaan yang baru didirikan PT New Priok Container Terminal One, perusahaan patungan yang didirikan oleh IPC, Mitsui, PSA dan NYK Line untuk membangun dan mengelola terminal.

Terminal kontainer ini diharapkan memiliki kapasitas penanganan tahunan sekitar 1,5 juta TEUs. Terminal ini memiliki panjang dermaga keseluruhan 850 meter dan draft 16 meter dan mampu menangani kapal kontainer mega.

Kembali pada bulan Desember 2014, perusahaan-perusahaan tersebut bekerja sama untuk membangun terminal baru karena pesatnya pertumbuhan lalu lintas peti kemas di Indonesia.

Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, yang merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia, menangani sebagian besar lalu lintas peti kemas internasional di Indonesia.

Terminal baru ini merupakan bagian dari proyek perluasan Korporasi Indonesia (IPC) yang mencakup pembangunan tujuh terminal dan dua terminal produk pada tahun 2023. Dengan terminal baru, pelabuhan tersebut akan memiliki kapasitas untuk menangani 18 juta TEUs setiap tahunnya.

Dengan kenaikan kapasitas ini, diharapkan kualitas dan peningkatan dari pelabuhan ini akan meningkatkan pendapatan untuk negara. Ini menjadikan Indonesia semakin menunjukkan kenaikan dalam bidang kemaritiman yang digagas oleh pemerintah untuk dapat berkembang lebih pesat dan lebih dapat bersaing dengan negara lain.

Sebagai negara kepulauan, memang Indonesia dipandang sebagai salah satu negara yang memiliki potensi sangat bagus untuk mendapatkan keuntungan dan menguasai wilayah kemaritiman. Ini memang masih belum tercapai sepenuhnya, namun potensi ini akan dapat diwujudkan bila sedikit demi sedikit peningkatan kualitas dapat diraih.

Pelabuhan UAE DP World Berhenti Kerjasama Dengan TPS

Pelabuhan UAE DP World Berhenti Kerjasama Dengan TPS

Pengembang pelabuhan UAE DP World telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak operasinya untuk PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Indonesia pada akhir kesepakatan pada tahun 2019.

DP World adalah pemegang saham 49% di TPS, yang merupakan kapasitas kotor 2,1 juta TEU dari 85 juta TEUs untuk grup tersebut. Perusahaan mengatakan bahwa tidak akan ada dampak finansial material pada kelompok tersebut sebagai konsekuensi tindakan ini.

“Selama 20 tahun terakhir, Surabaya mendapat manfaat dari sistem peningkatan produktivitas, pelatihan dan pengembangan DP World yang canggih, serta praktik keamanan, keselamatan dan lingkungan terbaik perusahaan, dan kami bangga dengan kesuksesan kami. “Sultan Ahmed Bin Sulayem, Ketua dan CEO DP World Group, mengatakan.

“Sangat disayangkan, kontribusi positif yang signifikan yang dilakukan oleh operator terminal global di Indonesia belum sepenuhnya diakui, terlepas dari rekam jejak kami yang sukses. Karena itu kami kecewa karena syarat pembaharuan kontrak operasi yang ditawarkan oleh pihak berwenang Indonesia tidak memenuhi ambang batas kami untuk investasi lanjutan, “tambah Bin Sulayem.

“Mengikuti disiplin keuangan yang ketat sangat penting bagi pertumbuhan DP World” dan atas dasar itu perusahaan mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat memperbarui kesepakatan di luar 2019.

Pengalihan operasi akan sesuai dengan syarat dan ketentuan kontrak, DP World menginformasikan.

Dengan pemberhentian kerjasama ini, TPS akan mencari pengganti DP World untuk diajak sebagai rekanan bisnis jangka panjang dalam masa yang akan datang. Dari pihak TPS saat ini belum ada konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut tentang hubungannya dnegan pihak DP World tentang pemberhentian kerjasama yang telah terjalin selama 20 tahun terakhir.

Bongkar Muat Pelindo 3 Dapat Pujian Dari Kapten Kapal

Bongkar Muat Pelindo 3 Dapat Pujian Dari Kapten Kapal

PT Terminal Teluk Lamong yang merupakan anak usaha Pelindo III menjadi perhatian karena layanan bongkar muat yang ada dipelabuhan tersebut sangat cepat. Penanganan pada bisnis seperti petikemas dan curah kering dapat dibongkar muat dengan cepat, hal ini pun kemudian mendapat pujian dari Kapten Kapal.

Hadirnya Panamax yang bersandar serta melakukan bongkar muat pada pelabuhan tersebut menjadi bukti nyata cekatannya layanan yang ada di Terimnal Teluk Lamong. Adapun ketika kedatangan kapal ini, Direktur Operasional Terminal Teluk Lamong, Rumaji menyambut kapal tersebut yang pada kapal terdapat bendera dari negara Liberia dan Malta.

Petikemas dari Teluk Lamong yang sudah melayani MV Irenes Rhythm sejak Agustus lalu memiliki panjang 222,17 meter serta membutuhkan setidaknya 12 meter untuk kedalaman. Berat dari kapal ini sendiri adalah 28.616 ton dan rutin melayani rute Busan – Gwangyang – Shanghai – Jakarta – Surabaya – Saigon.

Di Teluk Lamong sendiri, kapal ini akan melakukan bongkar muat seminggu sekali sesuai dengan perjanjian jadwal yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Direktur Operasional Terminal Teluk Lamong, Rumaji menyambut kapten serta awak kapal Irenes ini. Kapten kapal itu sendiri mengaku sangat puas dengan layanan bongkar muat yang ada di Teluk Lamong.

Dengan bongkar muat lebih cepat dari perkiraan, kapal tersebut dapa berangkat lebih cepat. Hal ini pula yang membuat kapten kapal tersebut memuji pelayanan serta sambutan yang diberikan oleh Terminal Teluk Lamong.

Rupanya pujian untuk kecepatan bongkar muat yang ada di Teluk Lamong juga didapat dari MV Okinawa. Kapal ini bermuatan pakan ternak dari rute Brazil – Jepang. Kapal ini sendiri menghampiri 20 pelabuhan, termasuk Indonesia.

Sama seperti MV Irenes Rhythm, MV Okinawa pun memuji kecepatan dan layanan yang diberikan oleh Teluk Lamong dalam melakukan bongkar muat barnag yang dibawa.

Setelah bertemu dengan kapten MV Irenes, perwakilan Teluk Lamong pun menghampiri kapten MV Okinawa dan turut mendapat pujian atas layanan yang baik yang diberikan oleh Teluk Lamong untuk kapal mereka yang sedang bersandar pada pelabuhan itu.